Senin, 11 April 2011

Tertawa dalam canda

Tertawa dalam canda
Ada hal yang barangkali boleh anda percayai dan boleh juga anda tolak mentah mentah sekalipun”jika kita ingin membuang segala dinding perbedaan diantara kita,yang biasanya melahirkan gengsi,ja’im atau hal hal sejenisnya,maka bercandalah dan tertawalah,maka anda akan merasakan bahwa “dinding”itu seolah tidak pernah ada”
Sebagaimana diatas, anda boleh percaya dan mencobanya dan boleh juga tidak percaya,karena pada dasarnya saya tidak menginginkan anda untuk percaya atau tidak percaya pada tulisan yang semoga tidak menyebalkan ini.hanya saja ada sedikit cerita yang bolehlah sekedar kita simak menemani kejenuhan kita membaca coment coment.

Ada seorang pemuda yang memang punya hoby bercanda,meski kadang kadang tapi sering bercandanya itu ia sesali sendiri,namun ia merasakan ada hal hal menarik yang membuatnya untuk sulit terlepas dari hobynya yang satu ini,sebagaimana ungkapan diatas tadi.
Begini ceritanya,ia mempunyai teman orang asing,karena kebetulan ia satu gedung dengan orang ini,mereka kadang ngobrol tentang hal negara,ilmu pengetahuan sampai kadang kadang ngalor ngidul ufs maksudnya kesana kemari,berdebat atau sekedar ngomong,nah orang yang hobynya bercanda ini,selalu punya ide untuk bercanda em barangkali ide itu ada begitu saja seperti angin yang berhembus,ujung ujungnya kadang menertawakan atau ditertawakan.
Setelah sekian waktu,pada suatu hari pemuda ini berniat untuk ikut dalam sebuah kajian atau lebih tepatnya apa ya,barangkali orang ngomong ‘’darress’’yang katanya diajar oleh orang yang sedang menempuh “doktoral”.ketika ia hadir ditempat yang dimaksud ia terkejut karena kebetulan terlambat,bahwa ternyata pembimbing atau pengisi acara tersebut tidak laen adalah temannya yang biasa ia”tertawakan pun menertawainya”.

Cerita laen.Pemuda tersebut amat akrab dengan seorang kyai,sampai sampai ia memanggil beliau dengan sebutan”mbahe”dan bukan “yai”atau “romo yai’’ia menganggap bahwa kyainya bukan sekedar seorang kyai tapi lebih dari itu,bahkan teman,atapun saudara karena kebiasaan pak kyainya yang memang mempunyai hoby sama,yaitu bercanda.barangkali hal tersebut dianggap tabu atau suul adab ditempat laen,namun tidak untuk pemuda tersebut,karena justru hal tersebut ia menjadi dekat dengan kyainya,jadi kalau dengan orang umum seperti ada tata krama tak tertulis,maka hal itu berbeda dengannya.
Bercanda,yah bercanda,ia menghilangkan sekat sekat kesombongan pada diri manusia,karena pada saat ia bercanda ia tidak lagi memakai baju baju perbedaan namun meleburnya menjadi persamaan,sama sama manusia yang tidak perlu merasa lebih diantara manusia laennya,meski ia pejabat,guru,kyai,profesor,konglomerat dan laen laenya.
Sebagaimana diatas,tulisan ini bukan ajakan untuk bercanda dan bukan untuk melarangnya,hanya sebuah keinginan untuk mengungkapkanya dari orang yang punya hoby bercanda dan kemudian tertawa.tentunya tidak sekedar bercanda dan sekedar tertawa yang penulis inginkan,karena bercanda yang berlebihan bukanlah hal baek sebagaimana makan berlebihan begituhalnya dengan tertawa,o ya yang lebih penting dari itu semua,agaknya penulis ingin meminta maaf jika anda adalah salah satu dari sekian orang yang pernah ditertawakannya h3..dan suerr jika hal itu menyakiti anda, penulis amat menyesalinya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar